CARI YANG ANDA INGINKAN DISINI

Saturday, November 27, 2010

Burung Raja Udang



Alcedo atthis (juga dikenal sebagai burung raja-udang sungai, raja-udang Eurasia, atau raja-udang Eropa) telah membuat banyak orang terobsesi. Di daerah beriklim sedang di mana lazimnya burung-burung yang ada memiliki bulu yang tidak menarik, raja-udang sungai jadi tampak memesona. Kita tidak mungkin mengabaikannya saat burung itu melesat membelah udara bak peluru kendali berwarna biru-hijau.

Burung berwarna kuning, merah, jingga, dan coklat di seluruh dunia mendapatkan corak warnanya dari pigmen yang tertanam dalam susunan keratin di bulu-bulunya. Namun warna biru pada bulu raja-udang timbul dari pembiasan, sama seperti pemecahan cahaya oleh prisma, ,tetapi yang ini terjadi pada sehelai bulu. Saat diteliti dengan mikroskop, setiap helai bulu raja-udang yang panjang dan lebih halus dari rambut manusia memancarkan eksotisnya gradasi warna-warna biru. Struktur kecil di dalam bulu mengolah cahaya yang datang, lalu memantulkan warna permata nilam ke satu arah dan warma zamrud ke arah yang lain.


Sayang, kecantikan bisa menjadi sebuah kutukan. Ada saat di mana bulu raja-udang meraih status yang setara dengan batu permata, sutra, dan rempah-rempah. Sebuah karya tulis China dari abad ketiga yang memaparkan kebudayaan Barat menjabarkan daftar harta yang biasa ditemui pada Kekaisaran Romawi: gading, emas, batu akik, mutiara, dan bulu raja-udang. Selama 2.500 tahun industri pakaian bangsa Cina menggunakan bulu-bulu berbagai macam burung dari hutan Asia. Dalam sebuah bentuk seni yang dinamakan tian tsui atau menghias dengan raja-udang, para pengrajin menempelkan bulu-bulu yang berkilauan tersebut pada perhiasan, kipas, tirai pemisah, dan panel lanskap. Sebuah selimut bahkan pernah diberitakan berubah menjadi ”hamparan laut biru-hijau”. Bangsawan Korea juga punya hasrat yang sama, tetapi pada akhirnya hasrat itu menyurut di awal 1900-an.


Beruntung, pada zaman sekarang kemewahan yang mengeksploitasi burung mungil nan pemarah itu tinggal kenangan. Raja-udang bukanlah burung yang pemalu; burung itu jarang terlihat hanya karena mengeksploitasi lingkungan yang dihindari kebanyakan orang (kecuali orang-orang seperti Hamilton James). Bantaran sungai yang ideal bagi raja-udang adalah yang tanahnya cukup gembur untuk digali dengan paruhnya untuk dijadikan sarang. Sarang itu haruslah cukup tinggi untuk menghindari banjir yang sesekali timbul, tetapi cukup rendah untuk menghalangi serigala, ular, dan pemburu yang mencoba mengusiknya dari atas
Sumber : Oneblitz.blogspot.com

No comments:

Post a Comment